Tapak Roda di Bumi Tambun Bungai: Catatan Mudik Pulang Pisau Menuju Sungai Pasir

-

Tapak Roda di Bumi Tambun Bungai: Catatan Mudik Pulang Pisau Menuju Sungai Pasir

Pulang Pisau | pa-pulangpisau.go.id

PULANG PISAU – Pukul 17.00 WIB, roda mulai berputar meninggalkan Pulang Pisau. Langit sore yang mulai memerah menemani awal perjalanan. Tidak ada ketergesa-gesaan; hanya deru mesin yang stabil menyusuri aspal menuju ibu kota provinsi.

Tepat saat azan Magrib berkumandang, posisi kendaraan sudah memasuki pinggiran Kabupaten Pulang Pisau. 40 (empat puluh) menit perjalanan tepat menghantarkan ke Masjid Al Jabir yang ada di desa Jabiren. Perjalanan dihentikan sejenak untuk berbuka puasa dengan takjil sederhana dan melaksanakan salat Magrib. Energi kembali terisi, dan kemudi segera diarahkan ke barat, membelah mega maghrib menuju Kota Palangka Raya dalam Waktu 1 (satu) jam.

Menembus Malam Menuju Sampit

Jalur antara Palangka Raya dan Sampit di malam hari menawarkan ketenangan sekaligus tantangan. Aspal hitam yang panjang diapit rimbunnya hutan Kalimantan terasa lebih sunyi. Sesekali, lampu sorot dari truk logistik yang berpapasan memecah kegelapan. Fokus tetap terjaga, perlahan tapi pasti, jarak ratusan kilometer terpangkas oleh putaran roda. Namun malam itu, rupanya menjadi bagian dari awal arus mudik sehingga jalanan cukup ramai meski jam menunjuk ke angka 10 malam.

Jeda Panjang di Kota Mentaya

Tepat pukul 00.00 dini hari, gapura Kota Sampit menyambut. Alih-alih memaksakan diri menembus kantuk, keputusan diambil untuk berhenti total. Setelah memilih penginapan dan makan sahur bersama, istirahat panjang menjadi prioritas. Perjalanan panjang sejauh lebih dari 500 kilometer melintasi jantung Kalimantan Tengah membutuhkan kondisi yang selalu prima ditambah harus fokus selama 13-14 jam.

Di saat pemudik lain mungkin masih berjibaku dengan aspal, di sini perjalanan diistirahatkan. Tidur yang berkualitas hingga pukul 09.00 pagi memberikan kesegaran yang dibutuhkan tubuh untuk menghadapi sisa perjalanan siang hari yang terik.

Etape Terakhir di Bawah Matahari Pagi

Pukul 09.00 WIB, dengan raga yang sudah bugar kembali, perjalanan dilanjutkan. Meninggalkan Sampit, pemandangan berubah menjadi deretan perkebunan kelapa sawit yang luas di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat. Perjalanan menuju Pangkalan Bun hingga masuk ke wilayah Sukamara terasa lebih ringan karena kondisi fisik yang prima.

Harum Angin Pesisir di Sungai Pasir

Memasuki sore hari, aroma payau khas pesisir mulai tercium saat kendaraan membelah jalanan di Kecamatan Pantai Lunci. Pohon-pohon kelapa yang melambai tertiup angin laut menjadi penanda bahwa tujuan sudah sangat dekat.

Sesaat sebelum matahari terbenam, gerbang Desa Sungai Pasir menyambut dengan hangat. Deru mesin akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah yang akrab. Riuh rendah salam keluarga dan hidangan khas lebaran yang sudah menunggu seolah menghapus tuntas debu perjalanan dari Pulang Pisau.

“C.A.T. (Cepat, Aktual, dan Terpercaya), rm/Timred”