Ramadhan di Mata Rahmatiah: Menakar Integritas dan Kesabaran dari Kursi Hakim PA Pulang Pisau

-

Ramadhan di Mata Rahmatiah: Menakar Integritas dan Kesabaran dari Kursi Hakim PA Pulang Pisau


Pulang Pisau | pa-pulangpisau.go.id

PULANG PISAU – Bagi banyak orang, Ramadhan adalah bulan menahan lapar dan dahaga. Namun, bagi Rahmatiah, S.H.I., salah satu Hakim di Pengadilan Agama (PA) Pulang Pisau, bulan suci ini memiliki dimensi yang jauh lebih dalam, terutama jika dipandang dari balik meja hijau persidangan.

Di tengah kesibukannya memimpin jalannya perkara di Kabupaten Pulang Pisau, Rahmatiah memaknai Ramadhan sebagai momentum "Madrasah Integritas". Menurutnya, menjalankan ibadah puasa selaras dengan tugas seorang hakim: melatih kejujuran dan kendali diri.

Rahmatiah mengungkapkan bahwa profesi hakim menuntut ketenangan pikiran dan kejernihan hati dalam mengambil keputusan. Ramadhan hadir untuk mengasah aspek tersebut secara spiritual.

"Menjadi hakim itu bukan sekadar soal teks hukum, tapi soal nurani. Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk Muraqabah—merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Jika perasaan ini dibawa ke ruang sidang, maka integritas akan terjaga dengan sendirinya," ujar Rahmatiah.

Meski sedang berpuasa, Rahmatiah menegaskan bahwa ritme kerja di PA Pulang Pisau tetap berjalan optimal. Rasa lemas saat berpuasa bukanlah alasan untuk menunda keadilan bagi masyarakat. Justru, ia melihat pelayanan publik sebagai ladang ibadah yang pahalanya berlipat ganda di bulan ini.

Beberapa poin utama makna Ramadhan menurut Rahmatiah antara lain yang pertama kesabaran ekstra dengan menghadapi para pihak yang bersengketa dengan kepala dingin dan empati yang lebih besar. Kedua, disiplin Waktu dengan menghargai setiap menit waktu luang untuk berzikir di sela-sela penyusunan putusan. Ketiga, Penyucian Niat. Memastikan bahwa setiap ketukan palu hakim diniatkan untuk mencari rida Tuhan dan keadilan sejati.

Pesan kepada masyarakat Pulang Pisau agar menjadikan Ramadhan sebagai ajang rekonsiliasi. Ia berharap semangat Ramadhan dapat menurunkan angka pertikaian keluarga yang seringkali berakhir di meja pengadilan. "Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan amarah. Alangkah indahnya jika semangat memaafkan ini dibawa ke dalam rumah tangga, sehingga harmoni tetap terjaga," pungkasnya.

“C.A.T. (Cepat, Aktual, dan Terpercaya), rm/Timred”